Didalam App Google Play Sekarang Sudah Tampil Feature Kredivo

Kredivo, kartu credit virtual saat ini jadi pembayaran credit digital Indonesia pertama yang dipilih jadi satu diantara fiturd app di halaman muka Google Play Store Indonesia. Fiturd app di Play Store adalah lambang resmi dari Google untuk aplikasi berkwalitas paling baik serta diberi pada kurang dari 1% dari semua aplikasi Android yang ada. Google Play Store adalah basis resmi Google untuk mencari serta mengambil aplikasi berbasiskan Android.

Didalam App Google Play Sekarang Sudah Tampil Feature Kredivo

Kredivo diambil berdasar pada sebagian persyaratan, yang mencakup, rating, jumlah unduhan, kekhasan serta design. ” Untuk kami, pernyataan ini adalah langkah yang bermakna untuk kerja sama yang lebih erat dengan tim Google Android dengan meluncurkan sebagian product inovatif yang diperlihatkan pada pemakai Android di Indonesia untuk satu tahun lebih ke depan, ” terang Akshay Garg, CEO FinAccel, perusahaan induk Kredivo dalam info tertulis, Senin (6/11).

Kurang dari 1, 5 th. mulai sejak di luncurkan, Kredivo selalu berkembang cepat. Saat ini, Kredivo telah mengakuisisi lebih dari 130 merchant. Dengan sistem aplikasi digital yang mengharuskan pemakai mengunggah kartu jati diri berbentuk KTP serta menghubungkan sebagian akun digital seperti Facebook, Gmail, e-niaga serta bank. Setelah itu Kredivo juga akan segera menyepakati angsuran pemakai dengan batas credit sampai Rp 20 juta sepanjang 12 bln..

Selain itu juga Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan merencanakan keluarkan ketentuan tentang perpajakan yang diperuntukkan pada industri e-commerce. Tetapi, kebijakan ini jadi sorotan beragam kelompok karna juga akan berimplikasi pada perkembangan e-commerce di Indonesia.

Direktur Eksekutif dari Economic Action Indonesia (EconAct) Ronny P Sasmita menyebutkan pemerintah mesti waspada dalam memastikan objek pajak di industri e-commerce ini. Dan setiap e-commerce juga pasti akan mempermudah konsumen mengetahui barangnya sudah sampai dimana dengan cek resi jne.

” Masalah gagasan pengenaan pajak oleh Kementerian Keuangan, bila tidak hati-hati, salah penyikapan, memberatkan, membebani pertumbuhannya, jadi beberapa ribu startup yang telah eksis dapat berkurang, punah, serta ekosistem ekonomi digital nasional juga akan berantakan, ” kata Ronny pada Liputan6. com, Kamis (12/10/2017).

Ronny mengemukakan, berdasar pada projectsi Frost & Sullivan, pasar e-commerce Indonesia saja diprediksikan juga akan tumbuh cepat 31 % per th., menembus US$ 3, 8 miliar pada 2019 kelak.

Bila dikomparasikan dengan negara-negara beda di ASEAN, laju perkembangan e-commerce Indonesia jauh diatas pasar e-commerce Asia Pasifik yang diprediksikan rata-rata cuma 26 % per th. atau menjangkau US$ 79 miliar pada 2020.

Ronny sendiri berkeyakinan serta begitu optimis, dalam lima th. ke depan, industri e-commerce Indonesia juga akan tumbuh dengan nilai ekonomi sekitaran US$ 15 miliar serta pada 2025 dapat menembus US$ 80 miliar.

” Jadi begitu tidaklah heran bila sekarang ini perusahaan-perusahaan e-commerce gencar menyebar iklan serta tawarkan beragam promosi ataupun potongan harga besar-besaran di Tanah Air, ” tegas pria yang sebagai tim pakar ekonomi Komite Ekonomi serta Industri Nasional (KEIN) itu.

Dia mencontohkan yang dikerjakan Lazada. com dari Singapura umpamanya, yang sahamnya dibeli oleh e-commerce paling besar Tiongkok, Alibaba Group Holding, sejumlah US$ 1 miliar. Alibaba begitu berambisi untuk menunjukkan kalau mereka tidak cuma jago kandang di Tiongkok, namun juga di lokasi Asia Tenggara yang ditempati 600 juta jiwa lengkap dengan tingkat perkembangan ekonomi yang relatif masih tetap bagus, yaitu diatas rata-rata dunia.

” Secara singkat, dengan projectsi yang begitu mengundang selera itu, pemerintah memanglah mesti hati-hati menanggapi beragam disrupsi yang dikarenakan oleh timbulnya startup-startup berbasiskan tehnologi tinggi serta yang tengah berjuang membuat ekosistem ekonomi digital nasional, ” tutupnya. (Yas)