Selamat Ulang Tahun, Perempuannya

Hampir dua jam ku pandangi layar putih di laptop. Kursor bergeming di sudut kiri atas. Hanya berkedip tiap detik. Tak ada kata di sebelah kiri kursor. Buntu. Pikiranku mengawang, tertuju padamu. Ini hari istimewa bagimu, pun bagiku. Namun aku (lagi) tak bisa memberi sesuatu yang membuatmu berkesan.

Ini akhir Oktober yang ke-7 mulai sejak kita sama-sama mengetahui. Ini akhir Oktober ke-2 puluh tiga bagimu. Selamat ulang th..

Mudah-mudahan apa yang kau cita-citakan dapat selekasnya terwujud. Keberkahan Tuhan semakin lekat di hidupmu. Saya mengamini semuanya doa yang kau panjatkan. Memanglah itu tugasku. Mengamini doamu serta mendoakanmu.

Bila doamu terkabul, bila hidupmu merasa gampang, atau bila halangan berhasil kau lalui. Bukanlah karna doa yang saya rapal lima saat satu hari semalam dipenuhi Tuhan. Itu karna budi baikmu, doa orang tuamu, serta saya tidak suka menyebutkannya, support lelakimu.

Iya. Saya cuma tidak sukai menyebutkannya. Namun saya bahagia melihatmu bahagia, walau bahagiamu bukanlah karenaku.

Saya tidak berdoa agar kau sehat senantiasa, karenanya nyaris mustahil. Jadi doaku mudah-mudahan semakin banyak sehat serta bahagia yang singgah kepadamu, dan kuat waktu hadapi problem. Bila kau tidak kuat, ada bahu yang siap jadi sandaran.

Bahu lelakimu. Bukanlah saya.

Disini, saya berdoa agar kau jadi wanita kuat, disana kepalamu kau sandarkan pada bahu lelakimu.

Rodan.

Lelakimu. Apa dia tegas? Apa dia kuat? Apa dia paham kau sukai boneka sapi? Apakah dia paham caramu makan cheese cassava? Kau mengungkap keju, kau tusuk cassava memakai garpu, kau ketukkan perlahan ke piring sebelumnya kau santap. Lelakimu tahu hal tersebut?

Ahh bodohnya saya. Pasti bila kau telah melabuhkan hati, harusnya lelakimu tahu semakin banyak dari pada saya.

Tidak apa-apa. Usahlah kau tidak enak hati

Menyukai dalam diam memanglah melelahkan. Itu masalahku. Kau cukup bahagia. Cukup kau selalu melengkungkan bibir dibawah pipi tembem lewat postinganmu. Telah lebih dari cukup. Itu semangatku. Walau disampingnya, ada sosok lelaki yang kau tutupi dengan emoticon.

Walau kau tutupi tetaplah saja saya dapat lihat suatu hal yang kau menjadikan sandaran. Bahu lelakimu, serta kursi bioskop baris C. Ada bagusnya, saya tidaklah perlu bebrapa ribet tutup, memotong, bahkan juga membakar photo lelakimu.

55 purnama mulai sejak kita kenal. Akhir Oktoberku senantiasa sama. Bersila diatas sajadah. Pada sepertiga malam. Membenamkan diri pada Tuhan. Merapal doa. Bila hari umum 5 kali namamu kusebut. Di penghujung Oktober saya menaikkan jumlah memohonku pada Tuhan.

Selepas itu, kuracik kata, kuramu kalimat. Tulis lantas hapus. Demikian selanjutnya. Mengolah kata untukmu tidak sempat gampang. Hingga fajar menyingsing, racikan kataku belum masak. Pada akhirnya cuma tiga kata yang (mungkin saja) kau baca. Selamat ulang th..

Saya sempat terasa demikian riang menyongsong akhir Oktober. Ada pembenar untukku waktu kita bertukar pesan. Tidak klise seperti, “Hai, apa kabarnya? ” Entahlah, jadi introvert, hal yang paling susah adalah mencari tema percakapan.

Beda perihal saat bertatap muka. Senantiasa ada bahan pembicaran yg tidak kunjung selesai. Engkau pakar mencari bahan perbincangan. Seperti waktu kita satu kereta waktu pulang dari kota perantauan. Kau ingat? itu adalah hanya satu peluang kita menggunakan saat dengan percakapan enteng serta receh. Waktu itu kau narasi beragam hal. Hingga kita nyaris abai dengan petugas pemeriksa karcis.

Kau ingat, terlebih dulu kau suruh saya menanti depan satu kedai di samping kiri loket. Lantas kau datang dengan roti panggang di tangan. Aroma cokelat kacang menguar.

Kau berbalut rok hitam, digabungkan atasan batik cokelat dengan bagian-bagian berwarna ungu, kerudung hitam serta kacamata. Benar-benar, senja di bln. Mei malu karna kalah cantik.

Itu telah lebih dari 1/2 windu. Tak tahu kenapa, potongan-potongan narasi masa lalu berkelebat. Sama-sama merangkai jadi bingkai ingatan yang utuh. Keluar sekali lagi di penghujung bln. ke-10.

Baca Juga: Ucapan ulang tahun

Saya tidak percaya kau ingat. Beberapa hal kecil sesuai sama itu mungkin saja tertutup oleh beberapa hal mengasyikkan dengan Arjunamu.

Kita tidak sempat menulis narasi dengan. Saya menggoreskan pena sendirian. Sesaat tak tahu mulai sejak kapan kau memegang tangan seorang, untuk kau bantu mengukir tinta di buku narasi kalian. dengan kata pengganti “my best”.